Surat untuk kamu

Posted: 21 Januari 2012 in geje (gak jelas)

Dear you,

Lama ya aku tak menemuimu :) Terakhir kali aku melihatmu adalah saat awal Januari taun ini. Itu sudah lama sekali, sudah 2minggu yg lalu. Dan aku masi belum lagi menemuimu, karena kamu selalu terselip di balik keangkuhan mega mendung. Yah, tapi aku sadar.. aku harus bersabar. Toh aku bukan siapa-siapa yg bisa mengaturmu.

Tahukah kamu, menjadi pengagum rahasiamu itu sangat menyakitkan. Terlalu banyak rivalku. Dan yang jelas, aku tak mungkin memilikimu. Mencintai tanpa harus memiliki? Boleh lah ya, aku juga pernah seperti itu. Dan sekarang harus terulang dengan kamu. Oke, aku sudah siap kok ngrasain nyesek lagi. Udah biasa mah, tiap hari menggalau.

Hey kamu! Iya kamu.. pemilik rindu yg terikat lekat dijantungku. Aku selalu bermimpi lho, mimpi bisa melihatmu setiap hari. Karena hanya dengan melihatmu, kamu bisa membuatku merasakan jatuh cinta lagi. Absurd mungkin, but that’s the truth. Aku menyukaimu apa adanya. Dan aku tak pernah menolak apa – apa yg kau beri :) Bagaimana aku bisa tak mencintaimu. Begitulah kau adanya, selalu ada bahkan disaat aku tak butuh kamu. Selalu ada tanpa ku harus tahu. Selalu tulus melukis keindahan untuk para pengagummu. Dan selalu seperti itu setiap hari. Setiap hari. Betapa kau sungguh layak untuk dicintai.

Ketika kau tak tampak disaat aku merindumu, itu bukan maumu. Kutahu. Mungkin memang sesekali kau memberiku pelajaran, untuk merasa kehilangan, merasa sakit, merasa sepi,  merasa hampa, jika kau tengah tertawan dibalik awan. Tapi selama ini aku terlambat menyadari bahwa sebenarnya, di setiap ketiadaanmu adalah kesetiaan yg sederhana. Walau kau tidak nampak, kau selalu setia menemani hari menuju peraduan malam.

Maaf ya, aku pernah kangen setengah mati ma kamu. Maaf, aku menyukaimu diam-diam. Maaf, kalo setiap hari aku selalu menunggumu, mengharap kamu menyapaku. Maaf, jika aku lancang. Maaf,,, mungkin kecintaanku padamu terlalu berlebihan. Tapi tenang saja, mencintaimu itu tak pernah lebih dari mencintai penciptamu. Karena Dia lah aku mencintaimu. Dan aku bersyukur Dia menyadarkanku bahwa kamu adalah keindahan sederhana yang bisa dicintai dengan  sederhana.

Dan harusnya kamu juga minta maaf padaku lho :P Pesona kharismamu begitu sempurna *setidaknya untukku*. Dankamu tahu, setelah kamu menyihirku seperti ini, kamu hanya memberiku isyarat. Isyarat untuk tak memilikimu seperti apa mauku. Yah, aku sadar, kau begitu indah, sempurna dimataku. Dan aku tak pernah bisa, bahkan untuk merasa pantas, untuk bisa memilikimu. Tentu saja kau terlalu megah untuk bertahta di hatiku. Kau terjaga untuk jiwa yg suci. Dan kau pantas bersanding dengan keanggunan siang atau pun keteduhan malam. Dan mereka lah jodohmu.

Maaf ya, pernah mencemburuimu ketika kau bermanja dengan awan putih yang menjingga karna kau sanding. Lantas kalian berdua mengemas di ufuk barat, sembari meninggalkan siluet emas yang indahnya selalu kukagumi. Kalian berdua membuatku iri :| , dan aku cemburu tak bisa sedekat itu denganmu, seperti sang awan. Tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapa yang pantas untuk merasa cemburu padamu. :D

Walau pun hanya bisa mengagumimu tanpa kau  membalas, aku tetap mencintaimu tanpa syarat. Karena memang kau

sangat mudah untuk dikagumi. :) Tenang saja, aku tak akan menuntut apa pun atas perasaan ini. Nanti tak beliin gembok  khusus, buat nyimpen perasaan buat kamu ini di hatiku. Jadi kamu punya tempat khusus dihatiku, yang orang lain tak

kan pernah tahu.

Terimakasih ya, untuk “saat itu” . Terimakasih telah mengajarkanku banyak hal. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat. Terimakasih telah mengijinkanku untuk merindumu di setiap “selamat pagi” sejak saat itu. Saat aku mengagumimu dengan penuh ketulusan untuk yg pertama kalinya. :)  Aku hanya berharap hanya kematian yg memisahkan kita.

Emmm, bolehkah aku…. *ah sudahlah*

Aku sudah berpesan kepada pengantar surat ini untuk segera menyampaikan surat ini padamu :) Semoga kau membacanya dengan tersenyum :)

  Teruntuk : senja di ufuk barat, sang pemilik rindu yang terikat lekat  dijantungku,

Dari  :  pengagum rahasiamu,  yang merindumu dari jauh

January

Posted: 6 Januari 2012 in geje (gak jelas)

Pagi yg cerah. Aku suka melihat sunrise dari jendela kamarku. Saat siluet putih keemasan surya mengintip dari balik ujung pepohonan di sebrang kali. Jika habis waktu hujan, akan ada deru derasnya air kali yg kerap kali menyeret ku pada kekaguman. Aku suka pagi ini. Bahkan ketika aku mendapati diriku terbangun dengan perasaan yg ……*entahlah*… tp aku bersyukur. Terlalu banyak yg terlewatkan jika aku tak menyapa pagi ini. Allah, terimakasih untuk nafas yg sempurna pagi ini :) .

Hari ini Jumat pertama ditahun ini. Seminggu ini, semuanya terasa spesial. Terasa baru. Terasa bersemangat untuk terus melangkah, atau bahkan aku tak sadar kalau semakin jauh :| . Tapi aku suka apa yg kujalani, terlepas dari tuntutan “pekerjaan” yg kurasa agak sedikit membuatku jenuh. Yah, egois memang, atau mungkin tidak dewasa,, tapi aku selalu cepat bosan dengan rutinitas. Selebihnya, I did great.

Resolusi 2012ku terlalu banyak. Singkatnya, aku ingin Januari ini menjadi titik awal untuk mulai berfikir tentang masa depan. Dimulai dengan menguntai mimpi-mimpi yg mungkin mustahil, hingga harapan-harapan yg mengambang, lantas mengukir janji untuk diriku sendiri. Hey! ayo bangkit Nay! Jangan mau dikalahkan emosi terus. Ayo move! move! move!

Aku menamainya rindu ketika malam tadi aku teringat Bapak dan Ibuku. Entahlah, aku merasa rindu dengan mereka. Bapak dan Ibu yg jarang menanyai kabarku walau cuma sms. Jarang bertanya tentang skripsiku atau kuliahku. Dan mereka hanya akan telfon atau sms cuma untuk mengabarkan bahwa ada sanak saudara yg meninggal atau menanyakan apakah uang sakuku cukup sampai awal bulan besok. Yah, merekalah orang tuaku. Kadang, ada rasa iri ketika tahu bahwa temanku setiap minggu pagi selalu ditelfon ibunya. Wew. childish ya aku. Tapi aku memikirkan hal yg lain tentang mereka. Orang tuaku hebat, mereka ta pernah menuntut apa pun dariku. Sisi baiknya, aku jd merasa tak terbebani untuk sebuah “pencapaian”, sisi buruknya, aku jadi “sakarepe udelku dewe” dalam melakukan sesuatu. Seperti ini, skripsi terlalu lambretos. Orangtuaku keren, ketika kebanyakan orang tua melarang anak gadisnya bekerja diluar jawa, orang tuaku justru mempersilakan aku mengadu nasib dimana saja, dan itu sudah berlaku sejak setaun yg lalu ketika aku meminta pertibangan beliau. Sama hal nya dengan jodoh, orang tuaku mungkin bisa dibilang “enggak jadul” karena mereka tak mempermasalahkan urusan percintaan monyetku. halah. Bahkan ketika aku bilang aku sudah putus dg pacarku, beliau dengan santainya cuma komentar “jodoh itu sudah ada yg mengatur, sudah ada jalannya sendiri, kalo memang tidak berjodoh, masalah sekecil apapun akan menjadi hal yg merusak hubungan”  heuheuheu..

Bapak, Ibu, maaf.. Maaf untuk apa pun .. Apa pun yg mungkin tidak berkenan untukmu..

Bulan ini aku menyisihkan sebagian uang saku,, amanah yg Bapak Ibu beri belum kupenuhi, maaf.. Aku janji akan kupenuhi dengan uang gajiku yg tak seberapa. Aku tahu aku betapa mencari uang itu tak seibarat mengipaskan kertas untuk mendapat  angin . Tak seperti itu emang.

Bapak Ibu, aku kangen rumah.. sudah sebulan lebih aku tak mendapat kabar dr rumah. Semoga Bapak, Ibu dan adik-adik sehat. Aku disini baik-baik saja, lebih baik dari terakhir kali ketika aku pulang. Tapi saat ini, aku merasa penat , aku..aku.. *ah, sudahlah* aku sedang bosan dengan rutinitas. Walau pun satu dua membuatku semangat. -.- Baiklah aku baik-baik saja. Oke. Aku baik-baik saja.

sedang mendadak galau dan badmood nglanjutin nulis. *exit*

 

Galau itu sederhana

Posted: 17 Desember 2011 in memories

bingung ya harus mulai dengan kata apa. Rasanya masih tabu buat mengucapkan kata “galau”. Galau! Galau! Galau! Galau! Halah. Galau itu,, emmmm hooaaamm..zzzzzzz… susah untuk menjelaskannya. Ada sakit, sepi, kosong, marah, bingung, kecewa, putus asa, berharap, meratap, menangis, ngesot, jungkir balik, kecepit, aw aw aw aw.. pokoknya semua bumbu dapur ada pada kata GALAU. titik.

Jadi singkatnya, dikisahkan pada waktu itu saya sedang galau tanpa sebab yg jelas. Mungkin kebanyakan makan sambel *halah ga nyambung*. Lantas saya memutuskan untuk kabur dari jogja secepatnya. Padahal kalo ga salah, saat itu beberapa minggu sebelumnya adalah saya barusan mudik. HaHaHa!… yah, dan begitulah. Semacam mengulang kisah tragis 2 tahun yang lalu. Ada pedih saat ku menjejaki jalan Jogja-Klaten-Boyolali-Kartasura-Sragen-Purwodadi-Pati. Ya,, rasanya masih begitu segar dan gahar. Ada yg terbendung di ulu hati. Sesak. Medesak ingin meledak. Rasa sakit, kecewa, dan semacam pilu bermahkota di jiwaku, saat itu. Masih sama seperti dua tahun yang lalu. Persis.

Oke. Lama-lama saya mulai terbiasa mendapat gelar kehormatan itu. G A L A U. hahah… Tapi alhamdulilah, ada banyak hikmah yang terselip dengan keberadaan gelar itu. Yang paling terasa adalah ketika aku merasa dekat dengan Tuhan. Dan masih terpahat jelas kata-kata mas Erwin di suatu pagi via sms.

“Nay adikku yg dicintai Allah. DIA meniupkan kegelisahan agar kita tahu hanya bersamaNya hati menjadi tenang. dan dengan demikian kita berbahagia.Dia mengirimkan kecewa dibalik cinta agar kita sadar hanya DIA yg pantas untuk lebih dicintai dr apa pun. dan dengan demikian kita berbahagia. Selamat  bermesraan dengan Allah. DIA tak akan membuat kita patah hati.”

Sebuah kesejukan membaca kata-kata itu. Betapa selama ini aku terlalu jauh dariNya. Kurang bersyukur dengan apa yg kumiliki, hingga aku meminta lebih. Kurang bersyukur dengan nikmat yg kudapat, hingga aku marah ketika mendapat musibah. Padahal, hidupku jauh lebih bahagia dari apa yg bisa kupikirkan. Aku punya kebahagiaan mutlak atas diriku sendiri. Dan aku tak pernah menyadarinya. Berawal dari galau, aku belajar sesuatu yg selama ini sulit kulakukan. IKHLAS. Rasanya sesuatu sangat ketika aku bisa mengikhlaskan sesuatu yg sangat berarti. Tapi aku sadar, semua yang datang karena Allah, cepat atau lambat juga akan kembali padaNya. Dan begitulah aku mematri konsep ikhlas dalam diriku. Dan alhamdulilah, sesuatu ya… ~(˘ε˘~) (~˘з˘)~

Lantas disuatu malam yg galau, xixixi, seorang sahabat yg jauh disana,teman SMA yg dulu cinta mati sama sohibku, memberiku semangat yg tinggi setinggi tingginya. Via sms dia menyadarkanku tentang realita yg ta pernah terpikirkan olehku.

“semua orang bisa membuat kita jatuh cinta jika kita mengijinkannya.semua orang bisa membuat kita benci jika kita mengijinkannya. intinya  perasaan bagaimana pun, kepada siapapun, itu kita yang membuatnya sendiri coz kita yang mengijinkannya, termasuk jika kamu mengijinkan hatimu bahagia , maka kamu akan bahagia. ;-)

Begitulah kata-katanya yg membuatku tersentak. Hellow. that’s right loh. kenapa selama ini aku terus2an berpikir bahwa bahagia itu ada jika ada orang yg bisa kita ajak bahagia. Sedangkan aku tak pernah mengajak hatiku, setidaknya diriku sendiri, untuk merasa bahagia. Bahagia itu tak serumit cerita sinetron.

Mas Erwin dan sahabatku ini adalah dua dari penyemangatku. Bapak Ibu Adik, Sahabat-sahabat, teman-teman, bahkan murid-muridku, mereka adalah senyum dan semangatku. Merekalah yang membuat hari-hariku penuh warna *semacam pelangi* hahaha. Terimakasih semua. You all are meant to me.

————————————————next episode———————————————————–

balik jogja bersama Dino dan Lino. Motoran bertiga itu serrrrruuu gilak! *eh kalo kami bertiga bikin trio itu bagusnya dikasi nama apa ya? :: riko, dino, lino:: eeemmm ah sudahlah #abaikan*

Dan begitulah perjalanan kami bisa dikatakan nekat. Mampir ke waduk kedungombo di daerah mana itu ya? emm Sragen ya? ato apa itu? *pelajaran IPS nilai jongkok* Dan semacam ini lah bentuk kami.

Pas poto ini diambil, ceritanya kami sedang salting sama om-om TNI yg melintas bertruk-truk. Dan ber ‘suit-suit’ kepada kami. Hufftt.. Eh ralat. Kayanya pas moment ini aku belum kena galau dech. Tuh kan, ceritanya jadi geje. Iya kok, belum galau. HaHaHaHa! yasutrah tak mengapa, lanjutkan.

Usut punya usut,, entah ini kebetulan atau kutukan,hehe.. sepulang dari Waduk itu,,masing-masing dari kami mengalami musibah.

Aku. Ketika aku dan dino berhenti di dekat perlintasan kereta api kaliyoso, kami berdebat masalah hilangnya lino. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena yakin ga mungkin dy tersesat. Alih-alih mo muter balik, pergelangan tangan kananku terkilir ketika roda depan motorku tergelincir dipasir dan aku mendadak ngerem dan otomatis tangan kanan menahan motor agar tak jatuh. Sakit terkilir ini baru kerasa sore harinya ketika aku bangkit dari tidur. Dan sampe 2bulan baru sembuh itu terkilir.

Lino. Nyaris sampe di lampu merah candi prambanan, aku dan dino nyalip dy. Padahal spanjang perjalanan dy tu yg paling ugal2an naik motornya dan suka ninggalin aku yg ngawal dino. Pas nyampe lampu merah itu,  aku buka sms ternyata ban motornya bocor persis dtempat aku nyalip dy. Ku pikir dy emang mo jalan pelan, wong sepanjang jalan dy kaya org kesetanan. Usut punya usut, ta jauh dari TKP kebocoran ban, ada seorang tukang tambal ban. Ketika lino mendatangi bapak tambal itu, bapaknya cm mrenges cengar-cengir. Dalam hati lino mengumpat. hahaha sial.

Dino. Hari berikutnya dy bercerita bahwa ketika sampai d Klaten, dy merasakan ada kejanggalan dg ban belakang motornya. Tapi dilihat dengan seksama tak ada yg aneh. Bocor pun tidak. Keesokan harinya, baru dia menemukan pangkal masalahnya. Ternyata eh ternyata pemirsah, ban belakang motor dino hamil pemirsah. Mlendhung gitu. ckckck

yah begitulah musibah itu menimpa kami dengan indahnya.

Together, we share joy and sorrow. Im nothing without you guys.

Kesanalah kau merangkak ketika kau terjatuh. Kesanalah kau mengapung ketika kau tenggelam. Kesanalah kau tuang canda ketika hatimu gundah. Kesanalah kau ukir kenangan ketika waktu semakin menghapus masa. Kesanalah kau urai lara menjadi tawa ketika hatimu tengah nestapa. Kesanalah, kepada merekalah kau tau betapa berharganya dirimu bagi mereka, dan betapa merak berharga bagimu. Dan kepada merekalah kau rakit arti persahabatan.

Bersama sahabat,, galau ituuu…………………………………………..lewaaaaaaattt !!! \(˘▽˘)/

This slideshow requires JavaScript.

Misi#2: Kabur dari Jogja

Posted: 25 November 2011 in geje (gak jelas)

Dear Allah. Aku bahagia atas hari2 yg kujalani 3bulan terakhir ini. Ujian hidup yg kau kado-kan untukq begitu manis. Walau pada awalnya aku sangat tak mengerti  kenapa seperti ini kenapa seperti itu. Bahkan airmata yg dulu tercucur setiap hari, tak mampu menjawab pertanyaanku. Sampai akhirnya aku berani tersenyum menatap masa laluku hingga sekarang aku sadar betapa banyak orang yang menyayangiku. Dan aku menyesal pernah menjauh dariMu, Allah. Aku menyesal. Kini aku bahagia dengan apa yg kujalani. Aku bisa tersenyum kembali. Aku ikhlas dengan segala ketentuanMu. Aku bahagia memiliki sahabat-sahabat yang menguatkan aku dikala aku terpuruk, teman-teman yg selalu membuatku ceria, pekerjaan yg sepele namun begitu banyak memberiku ilmu, rejeki yg sedikit namun sangat kusyukuri, dan terutama orang tua serta adik-adik yg luar biasa. Kini tak ada alas an lagi bagiku untuk tidak bersyukur padaMu Allah. Alhamdulilah. Terimakasih telah memberiku hidup yg sangat bermakna (setidaknya untuk diriku sendiri).

Setelah seminggu ini cengar cengir geje dengan sebab yg geje pula, sepertinya aku harus menghentikan tabiat buruk ini. Dan aaaaahhhhh… sebuah kebetulan yang tidak dibetulkan. Ada sesuatu yg menunggu di luar sana. Sepertinya akan bagus untuk perkembangan mentalku *mentalku tidak bermasalah, Cuma perlu diupgrade saja #eh* . Yah,, tiga bulan terakhir yang berat. Mental yg rombeng. Fisik yg gembel. Pikiran ga genep. Lengkap sudah semuanya membuat skripsweet ku teronggok manja di kolong meja. Dan hari-hari yg dipenuhi dengan menggembel kesana kemari pun terlaksana dengan sukses dan lancar.

Satu lagi, nggembel itu akan terasa asyik bila dilakukan rame-rame. Seperti yg kulakukan bersama makhluk yg ga jelas dari planet SALC – makhluk yg memberiku episode hidup yg menyenangkan, yg akan sensitive dengan kedisiplinan, yg totally geje dimana pun ngumpul walau dalam forum yg disebut rapat sekalipun-  nggembel di studio foto. Hahahahahahahaha -ups terlalu lebhaaarr..

Yeah. Spending the last day in Jogja. Berencana mo beli sesuatu di Malioboro, tapi endingnya Cuma nglesot di kasur mpe sore. Aje gileeeee, wanita macam apa aku ini? Yasudah abis kelar nulis ini langsung mandi deh. #jorokismetingkatdewa

Yup. Misi akan segera dilancarkan besok pagi. Kabur dari Jogja. Kangen rumah, tapi sayang beribu sayang, bukan kesana arah tujuan pertamaku. Lantas kemana aku akan pergi di dunia yg keras ini? *lebay* Emmm.. kemana pun arah roda motor menggelinding.halah.

Baiklah, saatnya menata hati dan pikiran di tempat yg akan menjadi persinggahanku nanti. Semoga ada manfaat yg besar dibalik rencana besok. Motor, jangan kenapa napa ya,, sehat ya sampai akhir, ya ya ya. Apa kau tega membiarkanku susah disaat kita sedang berduaan menyusuri jalanan panas2an dan ujan2an? Kamu kan yg selalu setia menemaniku disaat aku senang, ceria, sedih, susah, gundah, gulana, galau, lemah, letih, lesu, pening, bibir pecah-pecah *halah* bahkan gila sekali pun. __Ngomong-ngomong tentang gila, kenapa banyak orang yg menilaiku sinting, stress, gila, edan, dan sebangsanya? Kenapa? Why? Padahal aku tidak punya riwayat sakit jiwa. Njuk how? Apo alasannyo? Bahasan tidak penting #ABAIKAN__

Berhubung saya mendapat panggilan alam, sepertinya saya harus segera mengakhiri kisah hidup saya disini. Saatnya mandi dan menggembel lagi. Hayeee!

Gloomy October

Posted: 7 Oktober 2011 in geje (gak jelas)

Subuh tinggal membilang menit. Mata pun enggan terpejam. Allah, tolong damaikan aku dengan apa yang sudah dan tengah terjadi padaku. Agar tenang hati dan pikirku. Allah, lelapkan aku dalam sisa-sisa jilatan dinginnya udara Kaliurang. Lalu bangunkan aku disisa malamMu. Aku ingin bercerita banyak padaMu Allah.

Penat. Seolah hati bergemuruh dan ingin membuncah. Allah, aku menahan desakan itu. Aku menahan,, aku menahan sampai satu dua titik hangat itu menetes. Aku lemah. Ingin terlihat tegar, tapi sia sia. Ini bukan yg pertama kalinya. Bukan. Ini yg kesekian kalinya. Dan semua itu sama saja. Sama saja. Dan disetiap titik titik yg menetes itu, kumohonkan padaMu agar Kau bukakan pintu keihklasan selebar-lebarnya di hati kami.

Amin.

Aku termenung. Menuang beberapa rasa sakit dalam bejana kegalauan. Semakin perih dan menyakitkan. Aku tahu itu tindakan bodoh. Bodoh sekali. Tapi itulah yg bisa membuatku berani menatap walau hanya bayangan. Semua itu bukan hal mudah. Semua itu adalah proses. Dan aku tak berhak menyalahkan siapa pun atau apa pun. Semua ini sudah begini adanya.

Yeah, now im standing alone facing the so damn cold dark night. Goodbye September. Terimakasih untuk episode hidup yang indah. Seindah bangkai yg terurai belatung. Sekarang saatnya melihat kebelakang. Lihat, betapa selama ini langkahku tidak berada dijalan yang semestinya. Dan aku baru sadar setelah aku jatuh kejurang. Begitulah hidup. Sungguh keras dan kejam. Lalai sebentar saja, masuk jurang. #fiuh .derita gue.

krik krik krik

Posted: 20 Agustus 2011 in memories

Huam.. lama tak mengunjungi t4 maya ini.. tetap saja sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii… krik krik krik

3bln terakhir yg melelahkan. Sampai ta ada waktu tuk sekedar mengetikkan sesuatu.. hmmm..

akhirnya aku jd pindah kos. Bismillah, semoga semuanya lancar dit4 baru ini. sudah 4hari menghuni disini, masi belum rapi kamarku. hmmm,, seperti inilah kira2..menurutku lebih seperti gudang toko kelontong. heemmm parah..

Dikotak kecil ini, semoga skripsiku lbh lancar,, *lama2 tekanan batin jg denger temen2 seangkatan/temen2 sma ud pd wisuda. ggrrrrrrr* Over all, everything i got here ga lbh baik dr kos ku sblumnya. Aku mengakui kosq yg qhuni selama lbh dari 3th itu teramat sangat nyaman sekali dibanding beberapa kos temanku. Bahkan dit4 ini pun tdk sepadan, tdk lbh baik, i mean, fasilitas dan keadaannya. Kalo masalah lingkungan sih, disini lebih sehat. Setidaknya tidak ada bigos berkeliaran. Tragis, sehari sebelum aku mau pindahan, kos lama itu terbakar. Tepatnya salah kamar mungil yg dihuni penghuni baru, terbakar dg hebatnya. Untung masi utuh. Tp ttp saja, sisa kebakaran terlihat jelas. Itu membuatku semakin bulat tekat untuk pindah. Bukan masalah kebakarannya, tp pelayanan dr ndoro kanjeng penjaga kos sangat tidak memuaskan.

Fiuh,, anggap saja kenangan.. bukan halangan.. toh juga memang, kalo tiidak bisa memaklumi, lebih baik menghindar. heheheh

Hai skripsi, maaf ya aku tidak memebelaimu sebulan ini. Aku masi memikirkan hal lain yg kuharap bisa membuatmu lbh bermakna. sebentar yaaa,, aku janji akan sesegera mungkin memboyongmu ke rak perpus fakultas. heheheh.. amiiiiinnn..

Dear God

Posted: 3 Juni 2011 in geje (gak jelas)

Allah, sungguh kuasaMu begitu tinggi. Hamba mohon jauhkanlah hamba dari hal-hal yang KAU haramkan. Berkahi serta ramatilah orang-orang yang berjihad di jalanMU dan orang-orang yang menyayangiku dengan tulus.

Aku tak pernah tahu rahasia dibalik terbitnya mentari esok. Aku hanya tahu aku akan bersyukur jika Allah masih memberiku nafas yang ringan. Sudah sepekan berjalan. Aku belum mampu menata hatiku. Ada yang hilang dari masa lalu. Ada yang menyesak pilu diulu hatiku. Hariku terasa berbeda. Sms yang masuk ke HP ku pun tak seperti biasanya. Begitulah sepekan ini. Setelah satu masalah muncul, belum juga reda, muncul lagi masalah baru. Baru juga muncul, muncul lagi masalah baru. Allah, aku merasa KAU memperhatikanku lebih dekat akhir-akhir ini. KAU memperingatkanku akan hal-hal yang lalu. KAU mengujiku dengan potongan-potongan kelam hidupku. KAU ingin aku berubah.

Baru saja sepekan lalu, KAU beri aku ujian yang membuatku begitu marah. Aku belajar satu hal kemudian. Bahwa bukan Cuma aku saja yang bisa marah. Orang lain pun, bagaimana pun wujudnya, mereka juga bisa marah. Kau uji aku untuk membutuhkan orang lain yang sama sekali tak pernah ku sentuh. Namun pada akhirnya, itu membuatku kecewa. lantas aku belajar satu hal. Sebenci apa pun aku pada orang lain, tak sepantasnya aku berlaku tak baik padanya. Walaupun dia sudah berkali kali menyakiti dan bertindak tak adil padaku, akan lebih baik jika aku membalasnya dengan amal baik. Toh juga balas dendam pun tak akan sepadan dengan perbuatan yang sudah dilakukannya. Lalu KAU uji aku tentang kejujuran. Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Tapi aku belajar bahwa kejujuran akan berbuah manis, walau prosesnya pahit. Allah, KAU begitu mulia dengan segala kuasaMU.

Belum genap sepekan, KAU uji aku dengan potongan-potongan gelap sisi hidupku. Sulit bagiku untuk kembali merasakan masa-masa itu. aku tak tahu harus bagaimana. Tapi aku sungguh sadar bahwa aku sendiri yang menyesatkan diriku. Setahun yang lalu. Yah, kenangan yang sudah kusimpan rapat-rapat, tiba-tiba KAU bentangkan padaku. Aku kacau mengemas kenangan itu lebih rapat. KAU uji aku untuk mengakui kesalahanku, untuk meminta maaf, dan melihat kebelakang. Aku belajar satu hal. Bahwa diantara orang-orang yang datang untuk membenciku, masih ada mereka yang menyayangiku. Masih ada merka yang membutuhkanku. Walau seburuk apa pun aku bertingkah, merka dengan tulus membimbingku.

Allah, aku hanyalah hamba yang papa. Tak mampu melawan kehendakMU. Aku bersimpuh menengadahkan tangan. Mohon beri aku petunjuk menuju ke jalanMU. Bukakanlah hati dan pikirku supaya aku menjadi manusia yang selalu KAU ridloi. Allah, kirimkan aku sang penjaga yang kan menuntunku menuju FirdausMU.

“Mana SIM-nya!”

Posted: 1 Juni 2011 in memories

Pagi ini, tidak biasanya aku langsung bangun saat mamiku membangunkanku dengan metode dahsyatnya, menggelitiki telapak kaki. Mata sangat berat. Teringat semalam aku melakukan ritual sampai lewat jam 12. Dan si lepi ternyata belum mati. Hohoho, maap lepiii.. setelah solat subuh, aku mlungker lagi dengan selimut kucelku. Bangun, sudah siang ternyata. Langsung tanpa babibu, aku didaulat mami untuk mengantar beliau ke sebuah tempat yang tak asing bagiku. Ditempat itu dulu, dengan tujuan yang sama, mengantar mami, aku sedang sms-an dengan mantan nahkoda yang sempat akan menenggelamkanku ketika seorang tukang bakso menawariku semangkuk bakso. Gratis loohh. Aku menolak lantaran bukan karena ga doyan, lagi pula aku laper. Entah, lagi ga nafsu bakso. Eeeehhh, malah nglantur ceritanya.. hiyaaatt ciyyaaattt.. kembali ke topic. Topik oppa? Apakabar? Halah. Ngawur. Jadi tempat itu adalah bernama TPQ.

Panasnyooooo, kakiku sudah serasa tersentuh besi membara. Sungguh menyengat. Tapi ya memang beginilah kota tempat tinggalku. Kukira setelah dari TPQ kami akan pulang. Ternyata mampir dulu ke bank. Aiisshh tempat dimana bank itu berdiri, adalah tempat yang ku benci karena, untuk sampai ke jalan pulang, aku harus nyebrang jalan ramai yang notabene jalan pantura. Hahahahahasyem. Jalanan itu tempat para pengendara arogan yang tak mau mengalah. Sedikit sedikit sebentar sebentar klakson bersahut-sahutan. Padahal panasnya masyaAllah..

Pulang deh akhirnya sampai rumah. Kakiku sudah bertato japit sandal. Keren sangat wis. Aku keluar rumah. Haaaaa pagi pagi gini, mesti suasana sepi. Yang terlihat sibuk dijam-jam segini biasanya adalah tukang sampah, pemulung, sales, peminta sumbangan, pengamen, dan pengemis yang bersliweran disekitar rumah. Aku tergelitik melihat tanaman besar yang tumbuh di pot depan rumah. Banyak daun kuningnya. Tanganku gatal sekali ingin menggaruk daun itu dari tempatnya. Jadi ceritanya saat itu aku berkebun. Bukan. Ber pot lebih tepatnya. Setelah bosan, aku berniat cuci tangan dan nonton TV. Ketika aku melirik ke sebelah rumah, jrenggg jreennggg.. aku melihat siluet bayangan yang menggoda. Seonggok papaya yang matang menggantung manja di pohon. Sepertinya papaya itu minta disundul biar ga busuk di pohon. Aku lapor mami. Hahaha, dan mami meluluskan hasratku. Dari atas jemuran mami mengirimiku sebuah tongkat sakti yang disinyalir akan mampu menaklukan papaya itu. dan benar saja, dengan sekali sundul, papaya itu jatuh tak berdaya. Hahaha.. sesungguhnya, pohon papaya itu bukan milik mami, atau milik tetangga, tapi milik siempunya tanah yang ditumbuhi pohon. Tapi yang punya tanah entah berada di negeri antah berantah.

Mengambil punya orang lain itu tak boleh. Nanti bisa kena batunya. Dan ketika aku memberikan tongkat sakti ke mami di atas jemuran lagi, tiba tiba… “ennjuuuuusss”.. aku meraskan ada sesuatu yang menusuk kakiku. pijakan yang salah. Aku menginjak semak yang dibakar. Naasnya, aku menginjak kayu kayu runcing yang salah satunya menusuk tragis sandal jepit yang kupakai. Percaya atau tidak, kayu itu menembus mengenai telapak kakiku. Ketika kuangkat kakiku, terlihat sekali sandal jepitku bolong. Terlambat menyadari, aku merasakan cenat cenut yang menggila di telapak kakiku. Sambil menyunggi papaya nakal tadi, aku pulang terpincang-pincang. Benar saja, ketika kucuci kaki, darah segar meler. Dan ternyata, didalam sobekan luka itu, ada benda hitam yang nongkrong didalam. Semakin kupencet-pencet, semakin cenat cenut, bukannya benda itu ilang. Bagaimana pun caranya, benda itu harus keluar dari telapak kakiku. Dan akhirnya, happy ending. Bye bye benda item. Ternyata benda item itu adalah ujung kayu yang terbakar yang tadi munussukku dari bawah. Dasar kau kayu tak setia kawan.

Nunggu babhe pulang,, lamanyoooo.. eee, pas babhe pulang, langsung deh tanpa babibu aiueo langsung minta buru-buru berangkat. Berangkat lah ke kantor bhayangkara. Mas-mas dokternya cakep. Hehehe, nimbang BB, 48. Tapi aku bilang ke mas dokternya 49. Hahahaha.. dalam hati aku berteriak “Horeee!! Aku kurusan!!” terus, langsung menuju ke polres. Ngantriiiiiiiiiii perpanjangan SIM. Disana sini banyak mas-mas yang berseragam polisi. Kenapa ya, polisi-polisi muda bodynya jantan? *pertanyaan yang bodoh. Retoris.

Tapi dari sekian polisi yang kuperhatikan, aku belum menemukan satu yang bicaranya sopan, halus dan ramah. Kalau tidak kasar, ya berasa kaya mau nelen lawan bicaranya. Setelah lolos dari antrian loket satu dan dua, masukin berkas ke loket tiga. Nomor urutku dipanggil ke ruang foto, barengan ma babheku. Nomernya urutan ma babhe. Petugas yang harusnya melayani aku malah kabur entah kemana. Trus, ada satu om om polisi yang ga ganteng duduk didepanku dan sepertinya akan melayani aku. “nama!” pertanyaan yang pas banget diajukan ke terdkawa kasus pencurian ayam. Pertanyaan – pertanyaan berikutnya diajukan dengan nada yang lebih terkesan kasar daripada tegas. Pas keluar dari ruang foto itu, lega.. saking ilpil sama om pol tadi, aku sampai lupa nancepin nomor urut di meja. Malah kugenggam sampe kriting.

Ngantri lagi didepan loket tiga. Sebuah nama dipanggil diloket itu. itu loket pengambilan SIM baru. Petugas yang diloket, lagi lagi seorang om om. Si pemilik nama yang dipanggil, yang ternyata adalah seorang bapak yang sudah cukup tua, maju ke depan loket. Diloket itu ada dua password. “baru” atau “perpanjangan”. Naas, bapak itu ternyata berpassword “perpanjangan”. spontan om loket langsung teriak “SIM lama”. Sepertinya bapak itu belum mengerti apa maksudnya. Sontak om loket itu melotot sambil berkata “perpanjangan, tho? Lha iya, SIM lamanya mana?!!!” dalam hati aku mikir “busyeett, secara bapak itu lebih tua dari umur om om itu. bisa-bisanya bicara segalak itu. Apa mentang – mentang pake seragam polisi terus dia harus disegani? Seragam ga bisa membeli etika” Bapak itu kaget dan segera merogoh dompet disakunya. Babheku yang duduk ngantri disebelahku ga bisa nahan komentar “galak e petugase”. Aku Cuma nyengir. Aku langsung memegang SIM lama ku. Dan baguslah, namaku langsung dipanggil. Biar ga pelototin om loket sadis itu, aku langsung menyodorkan SIM lamaku. Si om sudah membuka mulutnya tapi langsung mingkem melihat SIM ku. Hahaha, SIM ku baruuuuuuu.. bikin SIM pas hari kesaktian Pancasila, semoga SIM ini selalu diridloi Allah. Amin.

Nganter babhe pulang terus njemput adikku di skul. Aje gilee siang yang panas. Nyampe depan skul, tak cari bentuknya adikku. Ealah, ga ketemu. Sungguh panas yang tak terkira. Aku telf no adikku. Sepertinya memang aku lagi buntung, aku sudah marah-marah ternyata yang ngangkat pacarnya. Mangkel kuadrat. Aku telf babhe dirumah minta nyuruh adikku segera menampakkan wujudnya. Benar saja, agak lama nunggu, muncul juga manusia jin ini. Selidik punya selidik mereka ternyata bersekongkol bertukar nomor hape. Nyampe rumah, tato japit sandal dikaki semakin terwujud lebih nyata. Masuk rumah, adikku yang pikun itu langsung ambil air wudlu. Abis wudlu, bukannya solat, malah jalan-jalan ke dapur, ke ruang makan, trus menenggak air. Padahal, dalam rangka UAS minggu ini dia menggalakkan program puasa. Yaaahh, ada yg dapet rejeki.

ixixixixixixi.. aku terkapar didepan TV. Azan asar, mami menyuruhku siap-siap. Ke skul. Ngeprint di kantor. Ada 2 komputer yang bila diibaratkan adalah bagai langit dan bumi. Yang satu, computer layar LCD layar datar dengan CPU yang masih kinclong dan terhubung dengan printer canggih yang bisa buat apa aja. Yang satunya computer jadul dengan CPU yang kuduga Pentium 3, yang tersambung dengan printer yang kembar dengan printer yang ada di salc, tapi keadaanya lebih memprihatinkan. Untuk mendukung kebuntunganku, bu lek, orang yg membawa kunci kantor, menyalakan computer yang kedua. MasyaAllah, lambretos bambang kusumo atmojo. Boro-boro bisa ngeprint, buka data aja ga bisa. Nge-heng lagi. Ku tekan tombol powernya, ga mau mati. Kutekan tombol restart pake emosi, nah, baru mati. Dengan sadis kucabut kabel USBku. Ku nyalakan computer satunya yang terlihat ihwow. Bisa, dan lancar. Ngeprint jadi bebas hambatan. Diakhir acara ngeprint ria, aku baru menyadari bahwa Hardware yang ku colokkan terserang viruuuuusssss.. AAAAAAAAAAAAAAAAAA.. aku tak suka hal ini. Nyampe rumah, panen deh virus shortcut dan Trojan. Mangstab.

Nahkoda dan layar

Posted: 1 Juni 2011 in Tak terkategori

Pernah berpikir suatu saat akan sampai pada titik ini. Titik dimana akan terjadi apa yang aku pernah bayangkan akan terjadi.

Aku hendak pergi menuju sorga. Tempat dimana orang – orang yang mulia dimuliakan. Kini usiaku hampir seperempat abad. Rute menuju ke sana seharusnya sudah kupikirkan. Aku akan mengarungi sisa hidupku dengan melayari lautan luas. Aku sudah memilih rute menuju kesana. Aku akan memilih jalan yang tidak tercepat tapi juga tidak terlama. Aku pilih rute yang sekiranya aku mampu bertahan. Tidak kekurangan, dan tidak berlebihan. Aku punya banyak pilihan. Aku punya hak penuh atas keputusan dan pilihanku.

Suatu ketika, seorang nahkoda kapal menghampiriku. Ia berjanji untuk membantuku pergi ke sorga. Aku seteguh tonggak dermaga, memegang janjinya. Hari demi hari berlalu. Ia memang membantuku. Tapi dengan caranya, aku akan kehabisan waktu untuk kesana. Ia sebenarnya nahkoda yang baik. Ia mampu melayarkan kapalnya sehingga kapal dapat bertahan pada rutenya. Namun sayang, kapal yang ku tumpangi ternyata sudah berlubang sejak awal pemberangkatan. Demikian juga layar kapal itu sungguh sangat susah dikendalikan. Padahal aku sudah menjalani perjalanan panjang dengan nahkoda itu. Akhirnya, perjalanan panjang kami sia-sia belaka. Karena pada akhirnya aku memutuskan untuk beganti halauan.

Nahkoda yang yang kukira baik untuk membawaku ke sorga, ternyata tidak cukup kompeten untuk mengendalikan layar. Justru, ia semakin tidak professional dengan bermain bersama penumpang lain yang entah tujuannya apa. Akhirnya kuturunkan sekoci lantas pergi dari kapal itu.

Mungkin aku bisa dibilang beruntung saat itu. Karena, sesaat sebelum aku berani mengambil keputusan, aku terpesona dengan salah seorang nahkoda yang tersohor karena kepiawaiannya mengendalikan layar. Nahkoda itulah yang memotivasiku untuk berani mengambil resiko hingga akhirnya aku turun dari kapal.

Berhari hari aku terombang ambing ditengah lautan luas yang entah dimana ujungnya. Hingga suatu ketika ada sebuah kapal megah menghampiriku. Aku terhenyak. Nahkoda kapal itulah yang selama ini membuatku berani. Lalu sang nahkoda mengajakku untuk menemani perjalanannya ke sorga. Aku tak punya alasan untuk menolak. Justru sebaliknya, aku sungguh bersyukur bisa dipertemukan dengannya.

Hari berganti dan terus berganti. Diawal pertemuan, semua tampak sempurna. Hingga akhirnya aku pun tahu, bahwa ia ternyata tak mahir mengendalikan layarnya. Padahal ia sendiri yang memilih dan memasangkan layar itu. tapi kenapa ia tak pandai mengendalikannya? Lebih kejam lagi, ia mengusirku dari kapalnya. Apa salah dan dosa ku? Dia bilang kapal itu akan tenggelam. Dan dia ingin menyelamatkanku dengan mengusirku dari kapalnya. Aku sungguh tak percaya. Tapi aku tak punya pilihan. Aku pun kembali terombang ambing. Walau perjalanan dengan nahkoda kedua Cuma berlangsung sepertiga dari perjalanan pertamaku, tapi cukup membuatku mabuk tak berdaya. Entah ada apa dengan kapal itu. Dengan kondisi yang tidak stabil, ditambah dengan badai hujan dan gelombang besar di laut, aku pun Cuma bisa menggigil. Aku Cuma bisa pasrah.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk mengirimiku nahkoda yang benar benar valid. Hingga suatu ketika, saat aku terbangun dari mimpi yang teramat buruk, aku menyadari bahwa diriku telah berada di dek kapal. Siapa yang menolongku? Sang nahkoda muncul dan menawarkan bantuan. Aku terima bantuannya dengan keraguan. Tapi aku berusaha untuk menghargainya. Nahkoda yang tak terlihat seperti nahkoda. Kapal yang kami tumpangi pun sungguh memprihatinkan. Banyak sekali hal hal yang seharusnya ada di kapal, namun tak ada. Kapal besar itu memiliki satu layar yang kuat. Namun, sepertinya nahkoda itu cukup kerepotan untuk mengendalikannya. Angin terlalu kencang, sehingga usaha yang ia lakukan agar layar tetap pada posisinya adalah sia sia. Kapal itu tanpa awak. Tak ada yang membantu. Seandainya saja ada beberapa awak yang berkompeten, tentu saja kapal itu akan menjadi favorit.

Dari kejauhan, aku melihat kapal lain. Kapal itu memberi tanda padaku bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju sorga. Aku cuma memberi isyarat bahwa aku juga sedang dalam perjalanan kesana. Namun aku tak bilang bahwa kapal ini tidak kesana. Sesungguhnya aku tak yakin dengan kapal ini. Aku ingin pergi, tapi karena nahkoda itu sangat baik terhadapku, aku tak bisa pergi begitu saja.

Kapal yang memberi isyarat itu pun semakin mendekat. Mendekat, tanpa peduli gelombang besar yang mengombang ambingkan kapal. Nahkoda kapal itu membawakanku tangga tali dan sekoci yang berhias bunga anggrek, bunga kesukaanku. Ia mengajakku untuk bersamanya dalam perjalanan menuju sorga. Nahkoda kapal yang aku tumpangi saat itu bahkan tak tahu kalau ada kapal lain yang mendekat. Ia bahakan tak tahu bahwa aku sudah lenyap dari kapalnya dan tengah berada di kapal lain. Ya, kapal yang memberi isyarat perjalanan ke sorga. Perjalanan panjang ini terasa singkat. Cukup jauh jarak yang ditempuh tanpa terasa. Nahkoda ini adalah nahkoda yang paling yang pernah kutemui. Aku bahkan sampai yakin bahwa nahkoda ini bisa membawaku ke depan pintu sorga. Perjalanan kami lancar lancar saja. Hingga suatu ketika, layar kapal sobek terhantam badai. Kapal pun tak stabil. Sang nahkoda juga tak punya banyak usaha untuk memperbaiki keadaan. Keadaan semakin buruk ketika tiba-tiba hujan datang. Buritan sudah tenggelam. Nahkoda masih sibuk dengan segala macam yang ada di ruang kontrol. Aku berusaha menjahit sobekan layar. Namun, sebagai balasannya, nahkoda menyalahkanku atas sobeknya layar. Ia sudah cukup muak dengan sobekan layar itu. karena layar itulah yang selama ini menyusahkannya. Sempat terbersit untuk meninggalkan kapal beserta nahkodanya karena kupikir, kalau seperti terus, kami tak akan pernah sampai ke sorga. Dan benar saja, hari berikutnya dan beberpa hari setelahnya, kapal benar-benar lepas kendali. Kapal berbalik arah sedangkan mesin motor tak dapat dinyalakan. Keadaan semakin buruk tanpa ada usaha untuk memperbaikinya.

Akhirnya aku tak tahu harus melakukan apa. Dari awal aku Cuma ingin pergi kesorga. Tapi kenapa justru aku bertemu nahkoda yang tidak meyakinkan. Aku Cuma ingin satu saja, nahkoda yang benar2 mampu mengantarku ke depan pintu sorga. Bukan yang Cuma mengantarku ke tengah perjalanan saja. Satu saja. Nggak lebih. Namun kembali lagi aku harus menilik ke realita. Bahwa sesungguhnya mencari nahkoda yang benar – benar setia dan ahli itu tak mudah. Padahal yang diinginkan setiap wanita adalah seorang nahkoda yang tegas, meneladani, dan mampu mengemudikan bahtera ke surga. Apa pun rintangannya, apa pun alasannya, seorang nahkoda haruslah mampu mendisiplinkan awak kapal. Dan lagi, seorang nahkoda yang baik adalah nahkoda yang mampu mengantarkan penumpang ketempat tujuan dengan selamat.

Jadi aku berharap, nahkoda yang kutemui terakhir ini adalah nahkoda yang tepat.

 

 

Jiglong

Posted: 31 Mei 2011 in memories

Hari sebelum kemarin. Pertama kalinya lega karena orang yang disinyalir banyak orang sebagai aliran NII tidak lagi meng-sms-ku. Haaaaaaa MERDEKA! Tapi, as the result, I had another badmouth from babu angkrigan. Heeeekkk!!! Pelajaran saat itu adalah, jangan berurusan dengan orang yang NJELEHI. Yups. Go to hell sono. Aku sudah muak sangat sampe diubun – ubun.

Hari kemarin, berhasil kulalui dengan selamat sentausa. Acara piket perpus aman terkendali. Bahkan alhamdulilah sekali, ada yang keinget bayar utang. Haaaaaaaa.. indahnya dunia. Pas banget di ujung bontot bulan ini, uang hanya cukup buat beli bensin mudik. Hiyaaaaaaa.. bagai dikasi duren (aku ga mau keruntuhan duren. Mending dikasi duren aja). Sudah malem, ceritanya di kos suepi buanget. Itu pertanda acara makan angin malam sedang dalam tahap niat.

Abis bayar utang, (dari uang bayaran utang tadi pagi, heee –gali lobang tutup lobang), aku, dino dan lino parkir pantat di deket stasiun tugu. Tepatnya di kompleks penjual kopi joss yang katanya kopinya dikasi arang membara. Tempat para cwo2 biasa nongkrong. Eheeemmm. Cobaannnnn.. masi sepi, soalnya kepagian nyampe sana. Jadi masi banyak pengamen, pengemis, org jualan, tukang parkir, org lewat, dari pejabat sampe rakyat melata , halah, rakyat jelita juga ada,,-ada yang lewat maksudnya-. Entah dapet wangsit apa aku, sebelum berangkat aku menyelundupkan 2 bongkah telur ayam yg aku rebus tadi sore. Hahaha. Ngobrol ngalor ngidul, sampe suatu saat. Ada tamu tak diundang mendekat menghampiri lino. Aku yang lagi makan telur hasil selundupan tadi, dengan innocent dan cool-nya bilang ke lino sambil menunjuk ke arah datangnya tamu tak diundang itu. “ehh lin, ituuuuu….” spontan lino noleh menuju arah jariku menunjuk. Dan spontan juga dia menjerit “aaaaaaa!!!!” dan spontan juga mbak2 yang duduk sama cowoknya disamping dino teriak lebih kenceng dari lino “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk!!!” dan spontan juga orang2 disekitar termasuk para penjual dan tukang parkir menoleh ke mbak2 itu. Bersamaan dengan teriakan mereka berdua, tamu tak diundang itu lari terbirit2 menjauh. Mungkin gengsi, malu atau salting. Dan spontan, kami, dan mbak2 itu tertawa. Menertawakan teriakan itu. dan tentu saja menertawakan si kecoa ngesot, si tamu tak diundang.

Dan sampailah di penghujung acara. Setelah ngalor ngidul ngobrol ga jelas sampe bokong keringetan, then, we decided to go home. Gerimis euy. Gerimis gini enaknya maen layangan. Halah. We went to Malioboro street. Lumayan crowded. Tetep gerimis. Dan aku mulai menjejak jalan “kewajiban”. Jalan yang selalu menenangkanku. Membawaku sekejap lupa dengan masalah dan penat. Hahahaha. Janti flyover, tempat yang membuatku dag dig dug. Sering dipepet bus truk dan monster ganas sejenisnya. Huft.

Eventually, we decided to have different route. Bye lino. Bye dino. CU next month. Sebelum pulang ke kandang, aku ngapel bapak petugas pom buat ngisi fuel tank-ku. “Penuh, Pak” – “Oke” . Traumi kalo bilang “full”, soalnya dulu pernah aku minta isi “sepuluh” eeehhh, Bapaknya malah ngasi “full”. hedeeehh mana lg ga punya duit pas itu. Pada jaman itu, bensin full seharga 1kampas rem. Rp 18.ooo –ngoookk— Tibalah saatnya pagi ini. Semalem udah janjian mbak agni mo ke kosku jam6. Ternyata eh ternyata pas ku sms, beliau br sms aku kalo g jadi ke kt4ku. Heeekk?? Tau gitu tadi aku berangkat bis subuh. Yaaaaawwwiiiissslaaahhh.. ha, njuk sing tak garap mau bengi percum tak bergun? Padahal wis direwangi lemburr ngetik berlembar2. Hedeeehhh..

Yasudah, setelah pamitan dan membocorkan t4 rahasia persembunyian kunci kamarku, aku memantapkan hatiku untuk sekali lagi berkata “TIDAK”. Tidak usah lama2, ayo cepat pulang. Arus sepanjang jogja-klaten bagai sungai code yang kebanjiran lahar dingin. Padat merayap dan menguras emosi. Ditambah, si supri yang kukendarai sedang enggak fit. Mungkin karena telat. Telat diservis. Maaf ya, aku lg krismon. Hiks.

Jalan Solo tiba2 membawaku ke masa 2tahun silam (kira-kira sih). Saat lg patah hati. Hahahaha. Oneng. Yah. Perasaan ini, perasaan yang menemaniku selama 5 jam perjalanan ini, sama seperti 2tahun silam. Aku pernah merasakan ini. Yah, aku masih ingat betul rasa sakitnya. Pedih, sakiiiit, hancur, I felt no one would see me. Unseen human. Benar2 merasa serasa dunia ini hanya aku dan rasa sakit itu. hahaha, sakit jiwa. Untuk masa itu, terimakasih buat ijah iyem dan ijah deny yg membuatku bangkit. Hehehe.. lupiyuuuuu miseyuuu..

5 jam yang lama. Mas-mas plat K-L yang tadi ku salip di Donohudan, akhirnya menyalipku kembali di Geyer. Heeekk, Supri Cuma bias lari paling kenceng 100 km/jam. Itu sudah makan gigi 4 padahal. Herman deh. Padahal biasanya kalo mudik gini gaspol mpe mobat mabit. Kaya si komeng di iklan Yamaha, mpe bibirnya kriting.

Haaaahh, perasaan ini sungguh membunuhku. Penat. Ngantuk. Laper. Capek. Pegel. Tambah penyakit kambuhan kalo naik motor lama2, tangan kanan suka kram tiba2. Haiissshhh. Nyampe purwodadi aku masi bisa senyam senyum ngebut dijalan. Pas masuk sukolilo, aku cuma bisa beristighfar. Semoga aku bisa melalui medan berat ini dengan selamat. Jalan berliku2, tanjakan, tikungan, jeglongan, dan pengendara sadis benar2 membuatku keringetan. Perjalanan kali ini aku ditubruk bus RELA. Bus setan yang ugal2an. 2 orang Bapak di bengkel menjadi saksi ketidakberdayaanku. Mereka bukannya panic atau was was, malah tertawa melihat peritiwa itu. *kalo di slow-motion kaya e tragis banget deh* . Aku tahu alasannya. Bapak2 itu sudah tahu tabiat bus Genderuwo itu yang nggak mau ngalah walo dengan pengendara motor bahkan sepeda onthel. Makanya, Bapaknya Cuma mrenges saja melihat bus itu menabrakku dari arah depan. Wassalam. Rem depan belakang enggak makan. Akhirnya, kukorbankan spion kanan untuk tumbal. Ngeeekk. Badanku panas semua. Lemes. Klakson genderuwo itu masih meraung2 dibelakangku. Nyalipin kendaraan yang tak berdosa didepannya. Aaaiiiisshhh, ilpil 90 derajat sama genderuwo itu. tapi, tenang, perjalanan masi panjang.

Masuk Sukolilo, agak limbung. Tangan sudah kram berkali2 dan sudah dapat dipastikan bakal kapalan. Jalan sempit berliku2 menanjak curam, kriting pula. Sampai aku serasa terbang padahal Cuma naik motor di jalan yang gronjal2. Ceritanya aku kehilangan kesadaran, alias setengah tidur sambil ngepot2. Jeglongan jeglongan di sepanjang jalan membuatku jiglong *bahasa yg dipakai temenku untuk mengistilahkan ‘ceblok’ atau terjatuh. Serasa organ dalam tubuhku geser dari tempatnya. Karena aku mererobos jeglongan2 yang tak manusiawi itu dengan kesadaran rendah. Sampai akhirnya aku benar benar merem. Dan ketika melewati tikungan, aku agak tersadar bahwa aku terlalu kekanan. Sedang motor dari arah berlawanan meng-klakson. “Preeeeeeeetttt” aku sontak terbangun lalu banting setir kekiri. Alih-alih ingin memberi tanda untuk minta maaf pada Bapak klakson tadi, aku malah ketawa teringat bunyi klaksonnya. Kaya kentutku. Jiakakaka. Terimakasih pak, telah membangunkanku.

Mendekati tanjakan maut pertama, perasaan ku jadi buruk seketika. Gigi 2, Berat. Gigi satu, Lumayan. Aduuuhh aku was was, terus berdoa supaya bisa nanjak tanpa menyebabkan rantaiku putus. *untung aku sudah ganti oli. Ssseeeett seeeettt seeeett. Lolos tanjakan pertama. Seeeettt srrroootttt.. lolos tanjakan maut kedua dengan jurus nungging karena khawatir beban tasku akan membuatku melorot kebelakang. Kalo dibandingin sama Jalan Jogja Wonosari, sukolilo is the horrible ones.

Nyampe rumah, langsung tepar. Oleh2 yang kubawa kerumah adalah pohon cabe yang kutanam sejak harga cabe mencekik, yang sampe sekarang, ibarat manusia adalah kena penyakit kwashiorkor, belum berbuah. Yang ada malah sekarat. Jauh2 dari jogja Cuma bawa pohon cabe. Hahaha.. kupersembahkan untuk mamiku yang lagi flu. Semoga cepet sembuh.. dan juga adik kecilku yang keadaanya tak jauh beda dengan mamiku. Bahkan siang itu aku disambut dengan lomba batuk oleh mami dan adikku. Sekarang mami dan adikku punya suara emas yang yahud. Yang kalo teriak bisa buat ayam tetangga pingsan saking kerasnya. Haaiisshh. Nyampe rumah tepar. Dibangunin babhe, suruh solat dhuhur. *adat dirumah, kalo sholat di detik2 terakhir, bakalan kena caci maki. Apalagi kalo solat subuh pas langit udah cerah, walo belum jam setengah6. Wuiihh, dahsyat. Bangun udah seperti robot. Efek jiglong sangat terasa. Apalagi di area gawat dan sekujur kaki. Rukuk yang aneh. Solat yang nggak khusyuk karena menahan sakit. Ketika kulihat, wihh, kaki kaya abis digebukin maling. Biru biru tompel disana sini yang kalo di pencet pastinya akan menimbulkan jeritan dan raungan.

Niat mau melanjutkan episode tewas yang bagian kedua. Tapi ini sikecil yang nakal mengganggu. Inget jambu yang kubawa sisa kemarin. Tak kasi adikku, trus dibuatin jus. Diem deh. Hahaha. Nongkrong dikamar, mengutuk lepi yang nge-heng. Mungkin karena tadi sudah dikocok abis selama 5 jam, jadi mutung deh ni lepi. Nengok ke jendela. Tetangga sebelah, si fahrul yang seumuran adikku yang sekarang calon kelas 12 STM, menghampiri kandang ayam barunya. Menurutku kandang itu lebih mirip angkringan. Hehehe. Dia lagi menulis sesuatu di terpal kandangnya. Tak perhatiin, tak amatin, tak eja *tulisannya jelek dan ga jelas, hee* tulisannya adalah sebagai berikut,

WWW.KERABAT.PITEK.COM – Rumah Gembel Mania – Presiden Pitek **** (sensored) berikut dengan TTD – Wapres Pitek **** (sensored) berikut dengan TTD – Kerabat Pitek berikut dengan TTD – dan yang paling dahsyat adalah gambar Pitek yang menurutku lebih mirip bebek yang kugambar waktu aku TK. heeee,,

Dan, tibalah saatnya sore ini aku mempersiapkan segala sesuatu untuk besok dating ke kantor polisi. Yah, tujuan utamaku pulang adalah untuk ke kantor polisi. Huft. Hari yang Panjang dan melelahkan. Bye jogja. Bye teman2 dijogja. CU next two weeks.