Hari sebelum kemarin. Pertama kalinya lega karena orang yang disinyalir banyak orang sebagai aliran NII tidak lagi meng-sms-ku. Haaaaaaa MERDEKA! Tapi, as the result, I had another badmouth from babu angkrigan. Heeeekkk!!! Pelajaran saat itu adalah, jangan berurusan dengan orang yang NJELEHI. Yups. Go to hell sono. Aku sudah muak sangat sampe diubun – ubun.
Hari kemarin, berhasil kulalui dengan selamat sentausa. Acara piket perpus aman terkendali. Bahkan alhamdulilah sekali, ada yang keinget bayar utang. Haaaaaaaa.. indahnya dunia. Pas banget di ujung bontot bulan ini, uang hanya cukup buat beli bensin mudik. Hiyaaaaaaa.. bagai dikasi duren (aku ga mau keruntuhan duren. Mending dikasi duren aja). Sudah malem, ceritanya di kos suepi buanget. Itu pertanda acara makan angin malam sedang dalam tahap niat.
Abis bayar utang, (dari uang bayaran utang tadi pagi, heee –gali lobang tutup lobang), aku, dino dan lino parkir pantat di deket stasiun tugu. Tepatnya di kompleks penjual kopi joss yang katanya kopinya dikasi arang membara. Tempat para cwo2 biasa nongkrong. Eheeemmm. Cobaannnnn.. masi sepi, soalnya kepagian nyampe sana. Jadi masi banyak pengamen, pengemis, org jualan, tukang parkir, org lewat, dari pejabat sampe rakyat melata , halah, rakyat jelita juga ada,,-ada yang lewat maksudnya-. Entah dapet wangsit apa aku, sebelum berangkat aku menyelundupkan 2 bongkah telur ayam yg aku rebus tadi sore. Hahaha. Ngobrol ngalor ngidul, sampe suatu saat. Ada tamu tak diundang mendekat menghampiri lino. Aku yang lagi makan telur hasil selundupan tadi, dengan innocent dan cool-nya bilang ke lino sambil menunjuk ke arah datangnya tamu tak diundang itu. “ehh lin, ituuuuu….” spontan lino noleh menuju arah jariku menunjuk. Dan spontan juga dia menjerit “aaaaaaa!!!!” dan spontan juga mbak2 yang duduk sama cowoknya disamping dino teriak lebih kenceng dari lino “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk!!!” dan spontan juga orang2 disekitar termasuk para penjual dan tukang parkir menoleh ke mbak2 itu. Bersamaan dengan teriakan mereka berdua, tamu tak diundang itu lari terbirit2 menjauh. Mungkin gengsi, malu atau salting. Dan spontan, kami, dan mbak2 itu tertawa. Menertawakan teriakan itu. dan tentu saja menertawakan si kecoa ngesot, si tamu tak diundang.
Dan sampailah di penghujung acara. Setelah ngalor ngidul ngobrol ga jelas sampe bokong keringetan, then, we decided to go home. Gerimis euy. Gerimis gini enaknya maen layangan. Halah. We went to Malioboro street. Lumayan crowded. Tetep gerimis. Dan aku mulai menjejak jalan “kewajiban”. Jalan yang selalu menenangkanku. Membawaku sekejap lupa dengan masalah dan penat. Hahahaha. Janti flyover, tempat yang membuatku dag dig dug. Sering dipepet bus truk dan monster ganas sejenisnya. Huft.
Eventually, we decided to have different route. Bye lino. Bye dino. CU next month. Sebelum pulang ke kandang, aku ngapel bapak petugas pom buat ngisi fuel tank-ku. “Penuh, Pak” – “Oke” . Traumi kalo bilang “full”, soalnya dulu pernah aku minta isi “sepuluh” eeehhh, Bapaknya malah ngasi “full”. hedeeehh mana lg ga punya duit pas itu. Pada jaman itu, bensin full seharga 1kampas rem. Rp 18.ooo –ngoookk— Tibalah saatnya pagi ini. Semalem udah janjian mbak agni mo ke kosku jam6. Ternyata eh ternyata pas ku sms, beliau br sms aku kalo g jadi ke kt4ku. Heeekk?? Tau gitu tadi aku berangkat bis subuh. Yaaaaawwwiiiissslaaahhh.. ha, njuk sing tak garap mau bengi percum tak bergun? Padahal wis direwangi lemburr ngetik berlembar2. Hedeeehhh..
Yasudah, setelah pamitan dan membocorkan t4 rahasia persembunyian kunci kamarku, aku memantapkan hatiku untuk sekali lagi berkata “TIDAK”. Tidak usah lama2, ayo cepat pulang. Arus sepanjang jogja-klaten bagai sungai code yang kebanjiran lahar dingin. Padat merayap dan menguras emosi. Ditambah, si supri yang kukendarai sedang enggak fit. Mungkin karena telat. Telat diservis. Maaf ya, aku lg krismon. Hiks.
Jalan Solo tiba2 membawaku ke masa 2tahun silam (kira-kira sih). Saat lg patah hati. Hahahaha. Oneng. Yah. Perasaan ini, perasaan yang menemaniku selama 5 jam perjalanan ini, sama seperti 2tahun silam. Aku pernah merasakan ini. Yah, aku masih ingat betul rasa sakitnya. Pedih, sakiiiit, hancur, I felt no one would see me. Unseen human. Benar2 merasa serasa dunia ini hanya aku dan rasa sakit itu. hahaha, sakit jiwa. Untuk masa itu, terimakasih buat ijah iyem dan ijah deny yg membuatku bangkit. Hehehe.. lupiyuuuuu miseyuuu..
5 jam yang lama. Mas-mas plat K-L yang tadi ku salip di Donohudan, akhirnya menyalipku kembali di Geyer. Heeekk, Supri Cuma bias lari paling kenceng 100 km/jam. Itu sudah makan gigi 4 padahal. Herman deh. Padahal biasanya kalo mudik gini gaspol mpe mobat mabit. Kaya si komeng di iklan Yamaha, mpe bibirnya kriting.
Haaaahh, perasaan ini sungguh membunuhku. Penat. Ngantuk. Laper. Capek. Pegel. Tambah penyakit kambuhan kalo naik motor lama2, tangan kanan suka kram tiba2. Haiissshhh. Nyampe purwodadi aku masi bisa senyam senyum ngebut dijalan. Pas masuk sukolilo, aku cuma bisa beristighfar. Semoga aku bisa melalui medan berat ini dengan selamat. Jalan berliku2, tanjakan, tikungan, jeglongan, dan pengendara sadis benar2 membuatku keringetan. Perjalanan kali ini aku ditubruk bus RELA. Bus setan yang ugal2an. 2 orang Bapak di bengkel menjadi saksi ketidakberdayaanku. Mereka bukannya panic atau was was, malah tertawa melihat peritiwa itu. *kalo di slow-motion kaya e tragis banget deh* . Aku tahu alasannya. Bapak2 itu sudah tahu tabiat bus Genderuwo itu yang nggak mau ngalah walo dengan pengendara motor bahkan sepeda onthel. Makanya, Bapaknya Cuma mrenges saja melihat bus itu menabrakku dari arah depan. Wassalam. Rem depan belakang enggak makan. Akhirnya, kukorbankan spion kanan untuk tumbal. Ngeeekk. Badanku panas semua. Lemes. Klakson genderuwo itu masih meraung2 dibelakangku. Nyalipin kendaraan yang tak berdosa didepannya. Aaaiiiisshhh, ilpil 90 derajat sama genderuwo itu. tapi, tenang, perjalanan masi panjang.
Masuk Sukolilo, agak limbung. Tangan sudah kram berkali2 dan sudah dapat dipastikan bakal kapalan. Jalan sempit berliku2 menanjak curam, kriting pula. Sampai aku serasa terbang padahal Cuma naik motor di jalan yang gronjal2. Ceritanya aku kehilangan kesadaran, alias setengah tidur sambil ngepot2. Jeglongan jeglongan di sepanjang jalan membuatku jiglong *bahasa yg dipakai temenku untuk mengistilahkan ‘ceblok’ atau terjatuh. Serasa organ dalam tubuhku geser dari tempatnya. Karena aku mererobos jeglongan2 yang tak manusiawi itu dengan kesadaran rendah. Sampai akhirnya aku benar benar merem. Dan ketika melewati tikungan, aku agak tersadar bahwa aku terlalu kekanan. Sedang motor dari arah berlawanan meng-klakson. “Preeeeeeeetttt” aku sontak terbangun lalu banting setir kekiri. Alih-alih ingin memberi tanda untuk minta maaf pada Bapak klakson tadi, aku malah ketawa teringat bunyi klaksonnya. Kaya kentutku. Jiakakaka. Terimakasih pak, telah membangunkanku.
Mendekati tanjakan maut pertama, perasaan ku jadi buruk seketika. Gigi 2, Berat. Gigi satu, Lumayan. Aduuuhh aku was was, terus berdoa supaya bisa nanjak tanpa menyebabkan rantaiku putus. *untung aku sudah ganti oli. Ssseeeett seeeettt seeeett. Lolos tanjakan pertama. Seeeettt srrroootttt.. lolos tanjakan maut kedua dengan jurus nungging karena khawatir beban tasku akan membuatku melorot kebelakang. Kalo dibandingin sama Jalan Jogja Wonosari, sukolilo is the horrible ones.
Nyampe rumah, langsung tepar. Oleh2 yang kubawa kerumah adalah pohon cabe yang kutanam sejak harga cabe mencekik, yang sampe sekarang, ibarat manusia adalah kena penyakit kwashiorkor, belum berbuah. Yang ada malah sekarat. Jauh2 dari jogja Cuma bawa pohon cabe. Hahaha.. kupersembahkan untuk mamiku yang lagi flu. Semoga cepet sembuh.. dan juga adik kecilku yang keadaanya tak jauh beda dengan mamiku. Bahkan siang itu aku disambut dengan lomba batuk oleh mami dan adikku. Sekarang mami dan adikku punya suara emas yang yahud. Yang kalo teriak bisa buat ayam tetangga pingsan saking kerasnya. Haaiisshh. Nyampe rumah tepar. Dibangunin babhe, suruh solat dhuhur. *adat dirumah, kalo sholat di detik2 terakhir, bakalan kena caci maki. Apalagi kalo solat subuh pas langit udah cerah, walo belum jam setengah6. Wuiihh, dahsyat. Bangun udah seperti robot. Efek jiglong sangat terasa. Apalagi di area gawat dan sekujur kaki. Rukuk yang aneh. Solat yang nggak khusyuk karena menahan sakit. Ketika kulihat, wihh, kaki kaya abis digebukin maling. Biru biru tompel disana sini yang kalo di pencet pastinya akan menimbulkan jeritan dan raungan.
Niat mau melanjutkan episode tewas yang bagian kedua. Tapi ini sikecil yang nakal mengganggu. Inget jambu yang kubawa sisa kemarin. Tak kasi adikku, trus dibuatin jus. Diem deh. Hahaha. Nongkrong dikamar, mengutuk lepi yang nge-heng. Mungkin karena tadi sudah dikocok abis selama 5 jam, jadi mutung deh ni lepi. Nengok ke jendela. Tetangga sebelah, si fahrul yang seumuran adikku yang sekarang calon kelas 12 STM, menghampiri kandang ayam barunya. Menurutku kandang itu lebih mirip angkringan. Hehehe. Dia lagi menulis sesuatu di terpal kandangnya. Tak perhatiin, tak amatin, tak eja *tulisannya jelek dan ga jelas, hee* tulisannya adalah sebagai berikut,
WWW.KERABAT.PITEK.COM – Rumah Gembel Mania – Presiden Pitek **** (sensored) berikut dengan TTD – Wapres Pitek **** (sensored) berikut dengan TTD – Kerabat Pitek berikut dengan TTD – dan yang paling dahsyat adalah gambar Pitek yang menurutku lebih mirip bebek yang kugambar waktu aku TK. heeee,,
Dan, tibalah saatnya sore ini aku mempersiapkan segala sesuatu untuk besok dating ke kantor polisi. Yah, tujuan utamaku pulang adalah untuk ke kantor polisi. Huft. Hari yang Panjang dan melelahkan. Bye jogja. Bye teman2 dijogja. CU next two weeks.