Subuh tinggal membilang menit. Mata pun enggan terpejam. Allah, tolong damaikan aku dengan apa yang sudah dan tengah terjadi padaku. Agar tenang hati dan pikirku. Allah, lelapkan aku dalam sisa-sisa jilatan dinginnya udara Kaliurang. Lalu bangunkan aku disisa malamMu. Aku ingin bercerita banyak padaMu Allah.
Penat. Seolah hati bergemuruh dan ingin membuncah. Allah, aku menahan desakan itu. Aku menahan,, aku menahan sampai satu dua titik hangat itu menetes. Aku lemah. Ingin terlihat tegar, tapi sia sia. Ini bukan yg pertama kalinya. Bukan. Ini yg kesekian kalinya. Dan semua itu sama saja. Sama saja. Dan disetiap titik titik yg menetes itu, kumohonkan padaMu agar Kau bukakan pintu keihklasan selebar-lebarnya di hati kami.
Amin.
Aku termenung. Menuang beberapa rasa sakit dalam bejana kegalauan. Semakin perih dan menyakitkan. Aku tahu itu tindakan bodoh. Bodoh sekali. Tapi itulah yg bisa membuatku berani menatap walau hanya bayangan. Semua itu bukan hal mudah. Semua itu adalah proses. Dan aku tak berhak menyalahkan siapa pun atau apa pun. Semua ini sudah begini adanya.
Yeah, now im standing alone facing the so damn cold dark night. Goodbye September. Terimakasih untuk episode hidup yang indah. Seindah bangkai yg terurai belatung. Sekarang saatnya melihat kebelakang. Lihat, betapa selama ini langkahku tidak berada dijalan yang semestinya. Dan aku baru sadar setelah aku jatuh kejurang. Begitulah hidup. Sungguh keras dan kejam. Lalai sebentar saja, masuk jurang. #fiuh .derita gue.
