Galau itu sederhana

Posted: 17 Desember 2011 in memories

bingung ya harus mulai dengan kata apa. Rasanya masih tabu buat mengucapkan kata “galau”. Galau! Galau! Galau! Galau! Halah. Galau itu,, emmmm hooaaamm..zzzzzzz… susah untuk menjelaskannya. Ada sakit, sepi, kosong, marah, bingung, kecewa, putus asa, berharap, meratap, menangis, ngesot, jungkir balik, kecepit, aw aw aw aw.. pokoknya semua bumbu dapur ada pada kata GALAU. titik.

Jadi singkatnya, dikisahkan pada waktu itu saya sedang galau tanpa sebab yg jelas. Mungkin kebanyakan makan sambel *halah ga nyambung*. Lantas saya memutuskan untuk kabur dari jogja secepatnya. Padahal kalo ga salah, saat itu beberapa minggu sebelumnya adalah saya barusan mudik. HaHaHa!… yah, dan begitulah. Semacam mengulang kisah tragis 2 tahun yang lalu. Ada pedih saat ku menjejaki jalan Jogja-Klaten-Boyolali-Kartasura-Sragen-Purwodadi-Pati. Ya,, rasanya masih begitu segar dan gahar. Ada yg terbendung di ulu hati. Sesak. Medesak ingin meledak. Rasa sakit, kecewa, dan semacam pilu bermahkota di jiwaku, saat itu. Masih sama seperti dua tahun yang lalu. Persis.

Oke. Lama-lama saya mulai terbiasa mendapat gelar kehormatan itu. G A L A U. hahah… Tapi alhamdulilah, ada banyak hikmah yang terselip dengan keberadaan gelar itu. Yang paling terasa adalah ketika aku merasa dekat dengan Tuhan. Dan masih terpahat jelas kata-kata mas Erwin di suatu pagi via sms.

“Nay adikku yg dicintai Allah. DIA meniupkan kegelisahan agar kita tahu hanya bersamaNya hati menjadi tenang. dan dengan demikian kita berbahagia.Dia mengirimkan kecewa dibalik cinta agar kita sadar hanya DIA yg pantas untuk lebih dicintai dr apa pun. dan dengan demikian kita berbahagia. Selamat  bermesraan dengan Allah. DIA tak akan membuat kita patah hati.”

Sebuah kesejukan membaca kata-kata itu. Betapa selama ini aku terlalu jauh dariNya. Kurang bersyukur dengan apa yg kumiliki, hingga aku meminta lebih. Kurang bersyukur dengan nikmat yg kudapat, hingga aku marah ketika mendapat musibah. Padahal, hidupku jauh lebih bahagia dari apa yg bisa kupikirkan. Aku punya kebahagiaan mutlak atas diriku sendiri. Dan aku tak pernah menyadarinya. Berawal dari galau, aku belajar sesuatu yg selama ini sulit kulakukan. IKHLAS. Rasanya sesuatu sangat ketika aku bisa mengikhlaskan sesuatu yg sangat berarti. Tapi aku sadar, semua yang datang karena Allah, cepat atau lambat juga akan kembali padaNya. Dan begitulah aku mematri konsep ikhlas dalam diriku. Dan alhamdulilah, sesuatu ya… ~(˘ε˘~) (~˘з˘)~

Lantas disuatu malam yg galau, xixixi, seorang sahabat yg jauh disana,teman SMA yg dulu cinta mati sama sohibku, memberiku semangat yg tinggi setinggi tingginya. Via sms dia menyadarkanku tentang realita yg ta pernah terpikirkan olehku.

“semua orang bisa membuat kita jatuh cinta jika kita mengijinkannya.semua orang bisa membuat kita benci jika kita mengijinkannya. intinya  perasaan bagaimana pun, kepada siapapun, itu kita yang membuatnya sendiri coz kita yang mengijinkannya, termasuk jika kamu mengijinkan hatimu bahagia , maka kamu akan bahagia. ;-)

Begitulah kata-katanya yg membuatku tersentak. Hellow. that’s right loh. kenapa selama ini aku terus2an berpikir bahwa bahagia itu ada jika ada orang yg bisa kita ajak bahagia. Sedangkan aku tak pernah mengajak hatiku, setidaknya diriku sendiri, untuk merasa bahagia. Bahagia itu tak serumit cerita sinetron.

Mas Erwin dan sahabatku ini adalah dua dari penyemangatku. Bapak Ibu Adik, Sahabat-sahabat, teman-teman, bahkan murid-muridku, mereka adalah senyum dan semangatku. Merekalah yang membuat hari-hariku penuh warna *semacam pelangi* hahaha. Terimakasih semua. You all are meant to me.

————————————————next episode———————————————————–

balik jogja bersama Dino dan Lino. Motoran bertiga itu serrrrruuu gilak! *eh kalo kami bertiga bikin trio itu bagusnya dikasi nama apa ya? :: riko, dino, lino:: eeemmm ah sudahlah #abaikan*

Dan begitulah perjalanan kami bisa dikatakan nekat. Mampir ke waduk kedungombo di daerah mana itu ya? emm Sragen ya? ato apa itu? *pelajaran IPS nilai jongkok* Dan semacam ini lah bentuk kami.

Pas poto ini diambil, ceritanya kami sedang salting sama om-om TNI yg melintas bertruk-truk. Dan ber ‘suit-suit’ kepada kami. Hufftt.. Eh ralat. Kayanya pas moment ini aku belum kena galau dech. Tuh kan, ceritanya jadi geje. Iya kok, belum galau. HaHaHaHa! yasutrah tak mengapa, lanjutkan.

Usut punya usut,, entah ini kebetulan atau kutukan,hehe.. sepulang dari Waduk itu,,masing-masing dari kami mengalami musibah.

Aku. Ketika aku dan dino berhenti di dekat perlintasan kereta api kaliyoso, kami berdebat masalah hilangnya lino. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena yakin ga mungkin dy tersesat. Alih-alih mo muter balik, pergelangan tangan kananku terkilir ketika roda depan motorku tergelincir dipasir dan aku mendadak ngerem dan otomatis tangan kanan menahan motor agar tak jatuh. Sakit terkilir ini baru kerasa sore harinya ketika aku bangkit dari tidur. Dan sampe 2bulan baru sembuh itu terkilir.

Lino. Nyaris sampe di lampu merah candi prambanan, aku dan dino nyalip dy. Padahal spanjang perjalanan dy tu yg paling ugal2an naik motornya dan suka ninggalin aku yg ngawal dino. Pas nyampe lampu merah itu,  aku buka sms ternyata ban motornya bocor persis dtempat aku nyalip dy. Ku pikir dy emang mo jalan pelan, wong sepanjang jalan dy kaya org kesetanan. Usut punya usut, ta jauh dari TKP kebocoran ban, ada seorang tukang tambal ban. Ketika lino mendatangi bapak tambal itu, bapaknya cm mrenges cengar-cengir. Dalam hati lino mengumpat. hahaha sial.

Dino. Hari berikutnya dy bercerita bahwa ketika sampai d Klaten, dy merasakan ada kejanggalan dg ban belakang motornya. Tapi dilihat dengan seksama tak ada yg aneh. Bocor pun tidak. Keesokan harinya, baru dia menemukan pangkal masalahnya. Ternyata eh ternyata pemirsah, ban belakang motor dino hamil pemirsah. Mlendhung gitu. ckckck

yah begitulah musibah itu menimpa kami dengan indahnya.

Together, we share joy and sorrow. Im nothing without you guys.

Kesanalah kau merangkak ketika kau terjatuh. Kesanalah kau mengapung ketika kau tenggelam. Kesanalah kau tuang canda ketika hatimu gundah. Kesanalah kau ukir kenangan ketika waktu semakin menghapus masa. Kesanalah kau urai lara menjadi tawa ketika hatimu tengah nestapa. Kesanalah, kepada merekalah kau tau betapa berharganya dirimu bagi mereka, dan betapa merak berharga bagimu. Dan kepada merekalah kau rakit arti persahabatan.

Bersama sahabat,, galau ituuu…………………………………………..lewaaaaaaattt !!! \(˘▽˘)/

This slideshow requires JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s